Sandiaga Uno
Development, Marketing, Startup

Beberapa Peluang Bisnis Startup saat Pandemi Menurut Sandiaga Uno

Sebagian besar perusahaan rintisan di Indonesia tertekan karena adanya pandemi corona. Pendiri OK OCE Sandiaga Uno mengatakan beberapa peluang baru yang muncul di tengah pandemi, sehingga bisa dimanfaatkan oleh para startp untuk bertahan dan tumbuh. Ia mencatat, bisnis di Tanah Air di semua kalangan sangat terpukul saat pandemi Covid-19 pertama kali muncul. Apalagi, ketika pemerintah menerapkan sistem lockdown dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

  Kondisi itu pastinya membuat permintaan produk menurun. Akan tetapi, semakin lama perusahaan rintisan mulai beradaptasi dengan situasi pandemi ini. Dari adaptasi itu, Sandiaga Uno melihat peluang baru di bebrapa sektor yaitu kesehatan, konferensi video virtual, kursus online, digitalisasi bisnis, kuliner, biotech, legal, dan energi terbarukan. Sektor-sektor ini dapat dimanfaatkan karena menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen di tengah pandemi ini. Sandiaga Uno optimis dengan perusahaan yang berinovasi dan memperkuat ekosistem digital, karena bisa menciptakan lapangan kerja baru di masa pandemi ini. Akibat pandemi ini, 21 juta orang kehilangan perkerjaannya. Oleh karena itu, penguatan perusahaan rintisan perlu dilakukan agar bisa menciptakan lapangan kerja baru dan hal ini akan berdampak positif terhadap perekonomian nasional

Sumber: katadata.co.id

Sumber foto: Instagram @sandiuno

Read More
Jokowi
Work

Buruan Daftar! Jokowi Mencari 9 Juta Orang Ahli Komputer

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa Indonesia membutuhkan kurang lebih 9 juta orang bertalenta digital dalam kurun waktu 15 tahun ke depan, saat memimpin rapat terbatas dengan topik pembahasan perencanaan transformasi digital di Istana Merdeka, kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Persiapan jutaan orang dengan talenta ini merupakan bagian dari upaya peningkatan transformasi digital Indonesia.

Eks Gubernur DKI Jakarta mengemukakan ketersediaan sumber daya manusia di sektor digital merupakan salah satu hal yang penting karena upaya bagi pemerintah Indonesia membangun ekosistem digital di tanah air kita ini. “Ini sangat perlu menyiapkan kurang lebih 600.000 orang per tahun sehingga kita bisa membangun sebuah ekosistem yang baik dengan tumbuhnya talenta digital ini,” katanya. 

Jokowi mengatakan bahwa pandemi Covid-19 ini harus bisa dijadikan sebuah peluang untuk melakukan percepatan transformasi digital. Pasalnya, wabah ini secara tidak langsung telah merubah sudut pandang seluruh masyarakat. Selain itu, Jokowi meminta kepada jajarannya untuk merancang sebuah peta jalan transformasi digital di sejumlah sektor strategis seperti sektor layanan publik, sosial, pendidikan, perdagangan, hingga kesehatan maupun industri.

Sumber: cnbc indonesia

Sumber foto: twitter @jokowi

Read More
Presentation
Startup

Tantangan Ini Dapat Membuat Startup Berkembang

Dengan seiringnya dinamika global, berbagai perusahaan startup mulai bertumbuh di Indonesia. Meskipun demikian, salah satu tantangan yang dihadapi dalam proses adalah inovasi. Karena membuat startup sulit mempertahankan eksistensinya. 

Saat ini ekonomi digital sedang naik daun, kata Direktur Aplikasi dan Tata Kelola Ekonomi Digital Kemenparekraf, Muhammad Neil El Himam. Dengan memahami situasi mengenai banyaknya permasalahan yang terjadi di masyarakat, pastinya akan membuat perusahaan startup untuk berkembang lebih baik. 

“Pengalaman kami yang sudah bertahun-tahun mengurusi dunia startup, kebanyakan di Indonesia tidak akan bertahan lama. Ini disebabkan kurangnya budaya untuk mendefisnisikan permasalahan yang sedang terjadi,” ungkap dia dalam virtual konferensi. 

Neil mengatakan, saat yang tepat bagi e-commerce untuk berkembang harus diimbangi dengan melihat peluang pasar dan memanfaatkannya menjadi suatu hal yang sangat berpotensi. Co-Founder & Chief Marketing Office tiket.com, Gaery Undarsa juga mengatakan, pandemi Covid-19 memang menghantam kondisi beberapa perusahaan rintisan termasuk startup Tiket.com. Ia memprediksi bahwa bisnisnya tidak akan bisa jalan sampai dengan akhir tahun. 

“Di tiket.com kita ekspektasi tidak akan ada pergerakan sampai dengan kuartal 4. Tapi ternyata tidak, di akhir Juni kemarin hasil per 1 Juli lumayan bagus dan transaksi naik 20% sampai 25%,” ungkap Gaery. Ia menambahkan, banyak startup di Indonesia saat ini hanya terfokus pada ide saja. Padahal dengan ide yang dianggap menurut kita bagus, belum tentu banyak orang yang tertarik dengan ide kita tersebut. Hal yang tidak kalah penting adalah ekosistem. 

“Yang paling mahal itu adalah ekosistem, dan kemudian mencari suatu masalah yang sulit di pecahkan sampai orang mau mengeluarkan biaya untuk memakai servisnya. Ini merupakan langkah yang sangat penting sebelum mulai sesuatu, kita juga harus melihat dulu apakah problem ini sudah cukup baik untuk dijalankan,” ungkap dia.

Sumber: kompas.com

Sumber foto: Designed by snowing / Freepik

Read More
Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani
Startup

Akan Ada 3 Calon “Unicorn” Baru di Indonesia

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memberitahukan akan ada tiga unicorn baru yang muncul di Indonesia sampai tahun 2024. Isilah unicorn mengarah kepada startup yang mempunyai nilai valuasi lebih dari 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14,4 triliun. 

“Tetap akan ada 3 target terhadap unicorn yang akan tumbuh di Indonesia,” kata Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan melalui webinar. Setelah penurunan ekonomi yang diakibatkan pandemi Covid-19 ini, Semuel tetap optimis bahwa Indonesia masih sanggup melahirkan unicorn baru. 

Samuel menjelaskan, tiga unicorn ini akan muncul dari sektor keuangan, pertanian, dan pendidikan. “Yang paling saya perhatikan adalah dari sektor keuangan, karena memiliki potensi menjadi unicorn,” jelas Semuel. Ia juga memberitahukan bahwa, baru-baru ini ada  startup  yang berubah status menjadi unicorn. Meskipun demikian, Semuel masih belum mau mengungkapkan identitas perusahaan tersebut. Semuel mengatakan sesungguhnya sektor digital merupakan peranan paling penting sebagai kunci kemajuan perekonomian di Indonesia pada masa yang akan datang. “Digital adalah pemecah masalah yang paling pas dalam memasuki pembangunan ekonomi berikutnya,” ujar dia.

Sumber: kompas.com

Sumber foto: kominfo.go.id

Read More
Ilustrasi Kantor
Startup, Work

Lebih Enak kerja di Startup atau Korporasi?

Pilihan bekerja di startup atau korporasi adalah pilihan yang sulit pada saat kita sudah lulus kuliah. Meskipun keduanya memiliki perbedaan, akan tetapi pilihan untuk berkarir tidak dapat asal di putuskan karena itu juga menjadi masa depan kita juga. 

Kalau begitu, mendingan kerja di startup atau korporasi? Sebelum menentukan, sebaiknya kita mengetahui dulu perbedaan bekerja di startup dan korporasi. Berikut ini adalah ulasannya :

  1. Jam Kerja

Soal jam kerja, keduanya memiliki perbedaan yang cukup mencolok nih. Kalau di startup, jam kerjanya lebih fleksibel. Karena, startup lebih mengutamakan goals pekerjaan yang harus dicapai, bukan lebih mengatur jam kerja. Maksudnya adalah, selama pekerjaan kamu bisa selesai dengan baik, jam kerja bukanlah suatu hal yang dipermasalahkan. Sedangkan korporasi, mereka biasanya punya aturan jam kerjanya yang lebih mengikat. Misalnya, kalau kamu terlambat, maka kamu tidak bisa mendapatkan uang makan siang. Atau jika akumulasi keterlambatan dalam sebulan melebihi batas, kamu bisa mendapatkan pemotongan gaji.

  1. Budaya Kerja

Karena sudah lebih besar dan lama berdiri, korporasi memiliki birokrasi dan hirarki yang lebih mengikat. Berbeda dengan startup yang lebih fleksibel meskipun memiliki struktur jabatan. Nah, hirarki ini juga berpengaruh dengan batasan antara manager dan staf serta junior dengan senior di korporasi. Selain itu, berpengaruh juga terhadap sikap, bahasa, nada bicara serta perilaku dalam berkomunikasi. Sedangkan di startup, fleksibilitas yang ada membuat komunikasi antara bawahan dan atasan terjadi secara dua arah.

  1. Gaji dan Tunjangan

Nah, hal ini juga kelihatan jelas perbedaannya antara startup dan korporasi. Balik lagi ke penjelasan di poin kedua, karena umur korporasi yang lebih matang tentunya keuangannya juga sudah jauh lebih baik dibandingkan startup. Maka dari itu korporasi juga memiliki aturan jelas mengenai gaji, bonus, upah lembur, kenaikan gaji dan tunjangan. Jika di korporasi, lembur akan diberikan upah. Sedangkan di startup, lembur merupakan bagian dari kontribusi dan dedikasi.

  1. Fasilitas

Untuk pengadaan fasilitas, korporasi sudah jauh berada di atas startup. Gak hanya fasilitas penunjang kerja seperti laptop dan sebagainya, bahkan beberapa korporasi juga punya fasilitas lain seperti caf, gym, salon dan sebagainya. Sedangkan kalau di startup, beberapa fasilitas harus kamu sediakan sendiri seperti laptop dan beberapa fasilitas penunjang kerja lainnya.

  1. Jenjang Karir

Di startup, kamu diberikan kesempatan belajar seluas-luasnya di luar dari jabatan kamu. Inilah yang menjadi latar belakang mengapa jenjang karir di startup tidak terlalu jelas. Karena, kamu bisa scale up diri dengan jabatan apapun yang kamu pegang, belajar memahami job desk lainnya gak harus nunggu jabatanmu tinggi terlebih dahulu. Sedangkan di korporasi, kamu akan diminta lebih fokus dengan job desk yang menjadi tanggung jawabmu. Tapi, ini gak menutup kemungkinan kamu bisa dipromosikan jabatan jika kamu bisa achieve target.

Sumber : kompasiana.com

Sumber foto : Alex Kotliarskyi on Unsplash

Read More
Strategi
Startup

Startegi Pivot Dapat Membantu Startup Bertahan Selama Pandemi

Selama pandemi Covid-19, Kominfo menyarankan Startup memakai strategi pivot karena dinilai dapat membantu startup bertahan di tengah masa pandemi corona ini. Akan tetapi Startup tetap harus pandai melihat peluang yang ada.

Pivot adalah aktivitas pengembangan usaha dengan mengubah model bisnis, namun tetap mempertahankan visi. Istilah ini diambil dari gerakan pada olahraga basket, mengubah arah dengan berpijak pada salah satu kaki. Oleh karena itu, ini adalah saatnya merubah strategi dengan menggunakan pivot.

Contohnya, konsumen berbelanja bahan makanan meningkat selama pandemi virus corona. Oleh karena itu, startup dengan model business to business (B2B) bisa ikut merambah business to costumer (B2C). Begitu pun sebaliknya. Bahkan, Startup juga bisa menerapkan model business to government (B2G).

Di saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) misalnya, semua orang mengandalkan platform panggilan video untuk kegiatan rapat. Ini juga merupakan sebuah peluang. Peluang seperti itu seharusnya dapat dilakukan oleh startup, dengan melakukan pivot. 

Selain itu, kementerian komunikasi dan informatika (kominfo) juga menyiapkan program 1.000 startup. Pada awalnya, program ini diperuntukkan untuk masyarakat yang akan mengembangkan startup. Saat ini, kementerian memperluas cakupannya sampai ke startup yang tedampak corona. “Kami juga akan mencarikan dan memperkenalkan dengan investor atau venture capital yang berminat,” ujarnya.

Sumber : Katadata.co.id

Sumber foto : Kaleidico on Unsplash

Read More
Kantor Google di Sunnyvale California
Work

Google mengumumkan 100.000 beasiswa untuk sertifikat online dalam analisis data, manajemen proyek, dan UX (User Experience)

Google mengumumkan tiga program bersertifikasi online dalam bidang analisis data, manajemen proyek, dan UX Design. Sertifikasi akan di buat dan di ajarkan oleh karyawan google. Pembelajaran ini dapat di selesaikan dalam tiga hingga empat bulan sesuai yang di tawarkan melalui platform pembelajaran online Course.

Google juga mengatakan akan mempertimbangkan setrifikat setara dengan gelar sarjana empat tahun.  Dalam mengikuti pembelajaran bersetifikasi ini akan ada sedikit biaya dari platfrom Course. Untuk harga saat ini $49 per bulan. Tetapi google akan memastikan bahwa siapapun dapat mengikuti kesempatan ini. 

Perusahan raksasa di bidang teknologi ini telah berkomitmen untuk mendanai 100.000 beasiswa  untuk individu yang terdaftar di salah satu program bersertifikasi ini dan akan memberikan dana hibah kepada tiga organisasi nirlaba yang bermitra dengan google yaitu YWCA, NPower, dan JFF sebesar $10 juta untuk menyediakan tenaga kerja bagi perempuan, veteran dan orang amerika yang kurang terwakili. Google memilih bidang analisis data, manajamen proyek dan UX Design dari pertumbuhan karir dan gaji tinggi.

Data perhitungan klaim tunjangan pengangguran

Pengumuman google datang ketika Amerika Serikat mengalami peningkatan pengangguran secara historis. Pandemi coronavirus meningkatkan ke khawatiran untuk banyak orang dalam dunia pekerjaan. Yaitu pemotongan gaji, penutupan bisnis dan juga otomatisasi. Coronavirus telah menyebabkan tren tenaga kerja seperti otomatisasi. Karena banyak orang Amerika yang tidak bekerja mungkin perlu untuk mecari pekerjaan baru dengan meningkatkan keterampilan dan pelatihan besar-besaran.  Beberapa percaya bahwa program sertifikasi berbiaya rendah menjadi solusi untuk meningkatkan prospek peluang bagi mereka yang tidak memeliki gelar sarjana. 

Pada tahun 2018, google juga meluncurkan program sertifikasi serupa untuk mereka yang tertarik dalam bidang IT. Google juga mengatakan bahwa 58% dari mereka yang mengikuti sertifikasi IT tesebut mengungkapkan bahwa program ini membantu mereka untuk menemukan pekerjaan baru, kenaikan gaji, dan memulai bisnis baru. Pandemi coronavirus telah menciptakan permintaan yang belum pernah terjadi untuk di adakan nya kursus online ini.

Sumber : cnbc.com

Sumber foto : CNBC, Greg Bulla on Unsplash

Read More
East Ventures
Startup

East Ventures Mentargetkan Dana untuk Startup Baru sejumlah Rp 1,24 T

East Ventures mentargetkan pengumpulan dana US$88 juta atau sekitar Rp1,24 triliun. Menurut Wilson Cuaca, dana ventura tersebut akan digunakan untuk mendamai startup yang baru muncul dan berkembang pada saat Covid-19 ini. 

Kata Wilson, “Pandemi Covid-19 telah memukul kinerja bisnis dan perekonomian global serta mengubah kebiasaan manusia di seluruh dunia. Akibatnya, konsumen dan pembisnis terdorong untuk mempercepat transformasi digital.”

Kebutuhan dunia usaha offline di kehidupan sehari-hari akan membuat dunia harus menyiapkan beragam antisipasi seperti model bisnis, memahami kebutuhan esensial, hingga beradaptasi.

“Percaya diri pada masa depan ekonomi digital di Asia Tenggara saat ini justru membuktikan founder yang hebat pasti menemukan celah untuk mengembangkan perusahaan mereka sendiri, bahkan pada saat kiris,” katanya.

Adapun Institusi finansial global dan regional yang sudah ikut bergabung sebagai investor dalam dana investasi terbaru East Ventures.

  Kata CEO Pavilion Capital Tow Heng Tan, “Kami sangat mendukung untuk meneruskan kemitraan kami dengan East Ventures. Karena posisi East Ventures di Asia Tenggara sangat strategis untuk mendampingi entrepreneur dalam menggali potensi yang lebih dalam”. 

Sumber : bisnis.tempo.co

Read More
Project Lobet
Development

Proyek Kolaborasi StartUpHub LOBET Memenangkan Pendanaan IEEE HAC COVID-19 Project

Proyek kolaborasi “Lawan Covid-19” dengan nama proyek “Low Bandwidth & Immersive Virtual Classroom” memenangkan pendanaan pada Pogram IEEE HAC & SIGHT Covid-19. IEEE HAC & SIGHT Covid-19 adalah kegiatan pendanaan pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) untuk “perang” melawan Covid-19 yang menjadi pandemic di seluruh dunia.

“Low Bandwidth & Immersive Virtual Classroom” ini merupakan kolaborasi project “LOBET” dari startup Scorates dengan tim StartUpHub, Dosen Telkom Univeristy dan anggota IEEE, Yang memiliki tujuan agar dapat meningkatkan dan membantu pembelajaran dimasa Pandemi Covid-19 meskipun dengan keterbatasan Bandwidth untuk beberapa daerah di Indonesia.

Scorates, sebuah startup yang bergerak di bidang edukasi, diprakarsai oleh beberapa tenaga pengajar dan peneliti dari Telkom University. Dengan pengalaman mengajar selama lebih dari satu dekade disertai dengan penguasaan teknologi terkini, para pendiri Socrates melihat banyak hal yang perlu diperbaiki dari proses belajar mengajar konvensional. Tujuannya adalah untuk meningkatkan engagement dan retensi materi yang dipelajari. Saat ini solusi edukasi ini sedang berada di tahap eksperimen, yang diterapkan secara nyata di kelas-kelas yang diampu oleh para pendiri.

Team “Low Bandwidth & Immersive Virtual Classroom” IEEE HAC & SIGHT Project :

  1. Marisa Paryasto (IEEE Member)
  2. Yahya Peranginangin
  3. Ichwanul Karo Karo
  4. Kristina Sisilia
  5. Retno Setyorini
  6. Robbi Hendriyanto

Sumber foto original : Unsplash, IEEE

Read More
Data Center
Development

Google Berinvestasi Pusat Data di Indonesia ? Apa alasannya ?

Raksasa teknologi asal Amerika Serikat, Google meluncurkan pusat data alias Google Cloud region ke-24 di Jakarta pada tanggal 24 Juni 2020. Google mengatakan, perkembangan unicorn yang pesat, menjadi salah satu alasan perusahaan memilih berinvestasi pusat data di Indonesia.

Country Director Google Cloud Indonesia Megawaty Khie mengatakan, Indonesia merupakan pasar strategis untuk Google Cloud. Secara global, Indonesia merupakan region ke-24 bagi Google Cloud.

Unicorn merupakan sebutan bagi perusahaan rintisan atau startup dengan valuasi lebih dari US$ 1 miliar. Indonesia tercatat memiliki 4 startup yang berstatus unicorn, yakni Tokopedia, Traveloka, Bukalapak, dan OVO. 

Tidak hanya unicorn, Indonesia memiliki 1 decacorn atau startup yang memiliki valuasi lebih dari US$ 10 miliar, yakni Gojek. Keberadaan Google Cloud memungkinkan perusahaan besar, unicorn, usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) berinovasi. 

Transformasi digital juga mungkin dapat diraih dengan Google Cloud. Apalagi, saat pandemi Covid-19, transformasi digital prosesnya semakin dipercepat. Ini dapat dilihat dari meningkatnya jumlah transaksi online. 

Chief Executive Officer (CEO) Google Sundar Pichai mengatakan, teknologi cloud sudah diterapkan di unicorn Indonesia pada sektor e-commerce seperti Tokopedia. Teknologi itu digunakan Tokopedia untuk memperkirakan permintaan dan mengelola inventarisnya. 

Di Indonesia Google Cloud telah dimanfaatkan sejumlah perusahaan besar, seperti Tokopedia, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI), dan PT XL Axiata Tbk, Gojek, Unilever, Ticket.com, dan AirAsia.

Sumber : katadata.co.id

Sumber foto : imgix on Unsplash

Read More