Tanihub
Startup

Tren Startup Pertanian di Masa Pandemi Covid-19

Saat pandemi Covid-19 ini, bercocok tanam di lahan terbatas di perkotaan atau urban farming menjadi tren. Selain untuk keperluan masak setiap hari, hasilnya dapat dipasarkan melalui platform digital seperti Tanihub dan Chilibeli. Tidak hanya untuk mengisi waktu senggang kita saja, urban farming mampu meningkatkan penghasilan petani di perkotaan. Salah satu caranya, dengan memasarkan hasil panen di platform e-commerce seperti Tanihub. 

Petani di daerah padat penduduk atau perkotaan dapat mendaftarkan diri sebagai mitra di situs resmi Tanihub, dengan menyertakan data diri dan komoditas yang ingin dipasarkan. Platform TaniHub menghubungkan petani dengan ribuan pelanggan, mulai dari Usaha Kecil dan Menengah (UKM), hotel, restoran hingga katering. Hasil pertanian yang dijual seperti sayuran, buah, dan lainnya. 

Head of Marketing Communications Chilibeli Yumar Lubis mengatakan ada beberapa jenis tanaman yang dapat ditanam di lahan terbatas, seperti bawang merah, cabai rawit dan buah-buahan. Chilibeli akan memasarkan produk-produk ini ke pelaku usaha hingga konsumen individu seperti ibu rumah tangga maupun pedagang sayur.

Staf Ahli Menteri Keuangan Masyita Crystallin pun menilai, sektor pertanian dapat meredam gejolak krisis akibat Covid-19. Hal ini seperti saat 1998, ketika tenaga kerja yang di-PHK kembali ke sektor pertanian.

sumber: katadata.co.id

sumber foto: tanihub.com

Read More
Uber App Notification
Startup

Akibat Covid-19 Perusahaan Teknologi Besar Mulai Berjatuhan

Saat ini banyak startup masuk masa krisi akibat pandemi Covid-19, tak terkecuali berbagai perusahaan rintisan raksasa yang sudah berskala besar. Jangankan membakar duit yang umumnya dilakukan para startup, mempertahankan bisnisnya saja sangat susah. PHK merupakan salah satu cara didunia startup agar bisa bertahan saat pandemi Covid-19. 

Di seluruh dunia mengalami keterpurukan dalam bisnis startup. Di Amerika Serikat (AS) sendiri contohnya, startup dengan kategori unicorn dan decacorn terpaksa melakukan PHK massal pada para karyawannya supaya dapat bertahan dalam situasi saat ini. Sepanjang 11 Maret – 26 Mei 2020 di AS, Visual Capitalist merilis, hampir semua sektor masuk dalam masa krisis akibat Covid-19, sehingga memaksa perusahaan rintisan teknologi memangkas jumlah karyawannya dalam skala besar. Startup paling terpukul dari pandemi corona adalah perjalanan dan pariwisata. Di sektor transportasi, Uber sudah melakukan PHK sebanyak 6.700 pegawainya. Di sektor perjalanan dan pariwisata, Airbnb tercatat melakukan PHK sebanyak 1.900 pegawai (25%), TripAdvisor 900 pegawai (25%), Sonder 400 orang (33%), dan TripActions 300 orang (25%). Lalu di sektor consumer, ada Magic Leap yang memecat 1.000 orang (50%), Yelp 1.000 orang (17%), dan Jull 900 orang (30%). Sektor lainnya seperti industri makanan, kesehatan, logistik, properti, dan keuangan juga sedang mengalami masa sulit setelah pandemi. Persentase angka PHK sangat besar. 

Sumber : kompas.com

Sumber foto: Facebook Uber

Read More
Project Lobet
Development

Proyek Kolaborasi StartUpHub LOBET Memenangkan Pendanaan IEEE HAC COVID-19 Project

Proyek kolaborasi “Lawan Covid-19” dengan nama proyek “Low Bandwidth & Immersive Virtual Classroom” memenangkan pendanaan pada Pogram IEEE HAC & SIGHT Covid-19. IEEE HAC & SIGHT Covid-19 adalah kegiatan pendanaan pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh IEEE (Institute of Electrical and Electronics Engineers) untuk “perang” melawan Covid-19 yang menjadi pandemic di seluruh dunia.

“Low Bandwidth & Immersive Virtual Classroom” ini merupakan kolaborasi project “LOBET” dari startup Scorates dengan tim StartUpHub, Dosen Telkom Univeristy dan anggota IEEE, Yang memiliki tujuan agar dapat meningkatkan dan membantu pembelajaran dimasa Pandemi Covid-19 meskipun dengan keterbatasan Bandwidth untuk beberapa daerah di Indonesia.

Scorates, sebuah startup yang bergerak di bidang edukasi, diprakarsai oleh beberapa tenaga pengajar dan peneliti dari Telkom University. Dengan pengalaman mengajar selama lebih dari satu dekade disertai dengan penguasaan teknologi terkini, para pendiri Socrates melihat banyak hal yang perlu diperbaiki dari proses belajar mengajar konvensional. Tujuannya adalah untuk meningkatkan engagement dan retensi materi yang dipelajari. Saat ini solusi edukasi ini sedang berada di tahap eksperimen, yang diterapkan secara nyata di kelas-kelas yang diampu oleh para pendiri.

Team “Low Bandwidth & Immersive Virtual Classroom” IEEE HAC & SIGHT Project :

  1. Marisa Paryasto (IEEE Member)
  2. Yahya Peranginangin
  3. Ichwanul Karo Karo
  4. Kristina Sisilia
  5. Retno Setyorini
  6. Robbi Hendriyanto

Sumber foto original : Unsplash, IEEE

Read More