Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini
Startup, Work

Anak Muda Harus Yakin Bisa Sukses

Menurut Tri Rismaharini selaku WaliKota Surabaya berpesan setiap individu satu dengan yang lainnya itu sama. Tidak ada yang membedakan, kecuali kemauan untuk bergerak dan mengubah dunia. Ia menganggap era sekarang memang sangat berat. Namun, bukan berarti anak muda tidak bisa meraih kesuksesan dan menjadi pemenang. 

Di depan ratusan peserta workshop di Surabaya, Jawa Timur, Risma bercerita latar belakangnya sebelum memimpin Kota Pahlawan ini lebih condong ke arsitek. Beliau pun berkata bahwa tidak terlalu paham masalah ekonomi dan pemerintahan. Akan tetapi, Risma mengaku dirinya tipe orang yang tak mau berhenti bertanya.

Di era digital seperti jaman sekarang, semua hal pasti bisa dilakukan. Karena melihat dari mudahnya mengakses teknologi dan informasi. Bagi Risma, sekarang ini merupakan tantangan bagi anak millenial. “Ini adalah tantangan kalian semua, bukan tidak bisa, bukan tidak mungkin karena semua itu mungkin,” tambah perempuan berkerudung ini.

Wali Kota Surabaya ini memberikan contoh, jika kalian ingin menjadi seorang pengusaha, tidak perlu membuat toko yang memerlukan banyak pengeluaran. Cukup manfaatkan teknologi yang ada dengan membuat bisnis online ataupun membuat startup.

Sumber : inet.detik.com

Sumber foto : Twitter @BanggaSurabaya

Read More
Uber App Notification
Startup

Akibat Covid-19 Perusahaan Teknologi Besar Mulai Berjatuhan

Saat ini banyak startup masuk masa krisi akibat pandemi Covid-19, tak terkecuali berbagai perusahaan rintisan raksasa yang sudah berskala besar. Jangankan membakar duit yang umumnya dilakukan para startup, mempertahankan bisnisnya saja sangat susah. PHK merupakan salah satu cara didunia startup agar bisa bertahan saat pandemi Covid-19. 

Di seluruh dunia mengalami keterpurukan dalam bisnis startup. Di Amerika Serikat (AS) sendiri contohnya, startup dengan kategori unicorn dan decacorn terpaksa melakukan PHK massal pada para karyawannya supaya dapat bertahan dalam situasi saat ini. Sepanjang 11 Maret – 26 Mei 2020 di AS, Visual Capitalist merilis, hampir semua sektor masuk dalam masa krisis akibat Covid-19, sehingga memaksa perusahaan rintisan teknologi memangkas jumlah karyawannya dalam skala besar. Startup paling terpukul dari pandemi corona adalah perjalanan dan pariwisata. Di sektor transportasi, Uber sudah melakukan PHK sebanyak 6.700 pegawainya. Di sektor perjalanan dan pariwisata, Airbnb tercatat melakukan PHK sebanyak 1.900 pegawai (25%), TripAdvisor 900 pegawai (25%), Sonder 400 orang (33%), dan TripActions 300 orang (25%). Lalu di sektor consumer, ada Magic Leap yang memecat 1.000 orang (50%), Yelp 1.000 orang (17%), dan Jull 900 orang (30%). Sektor lainnya seperti industri makanan, kesehatan, logistik, properti, dan keuangan juga sedang mengalami masa sulit setelah pandemi. Persentase angka PHK sangat besar. 

Sumber : kompas.com

Sumber foto: Facebook Uber

Read More
Huami N95 Mask
Startup, Technology

Masker Transparan Canggih Buatan Startup China

Masker pada saat menjadi salah satu alat yang paling penting dan harus digunakan untuk melindungi diri dari penyebaran virus corona, yang wajib digunakan saat kemanapun kita keluar rumah. Akan tetapi, masker yang ada di pasaran saat ini masih memiliki kekurangan, salah satunya adalah hanya dapat dipakai untuk sekali saja habis itu dibuang.

Namun, startup asal China Huami telah memecahkan masalah ini dengan masker transparan N95 yang telah dilengkapi berbagai teknologi canggih. Masker ini memiliki nama Aeri yang dirancang dengan bahan anti-kabut, dan bisa dibuka atau ditutup menggunakan teknologi Face ID yang terdapat pada ponsel kita sendiri.

Masker ini juga dilengkapi dengan lampu ultraviolet yang mensterilkan filter dalam waktu yang tidak sampai 15 menit dengan cara harus terhubung ke sumber daya melalui port USB. Artinya, jika masker ini disambungkan dengan colokan, Aeri bisa melakukan pembersihan diri secara mandiri, sehingga pengguna bisa menggunakannya berulang kali tanpa membuangnya dan membeli lagi. Bahkan lebih kuat satu setengah bulan dari masker N95 biasa saat kita gunakan secara berkala.

Karena bisa mengenali wajah pemilik masker berdasarkan Face ID, maka orang lain pun tidak bisa membuka masker ini. Sementara itu, desainnya yang modular memungkinkan pengguna untuk menyematkan kipas di dalam masker agar tidak kepanasan.

Sumber: suara.com

Sumber foto: Huami

Read More
Sandiaga Uno
Development, Marketing, Startup

Beberapa Peluang Bisnis Startup saat Pandemi Menurut Sandiaga Uno

Sebagian besar perusahaan rintisan di Indonesia tertekan karena adanya pandemi corona. Pendiri OK OCE Sandiaga Uno mengatakan beberapa peluang baru yang muncul di tengah pandemi, sehingga bisa dimanfaatkan oleh para startp untuk bertahan dan tumbuh. Ia mencatat, bisnis di Tanah Air di semua kalangan sangat terpukul saat pandemi Covid-19 pertama kali muncul. Apalagi, ketika pemerintah menerapkan sistem lockdown dan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

  Kondisi itu pastinya membuat permintaan produk menurun. Akan tetapi, semakin lama perusahaan rintisan mulai beradaptasi dengan situasi pandemi ini. Dari adaptasi itu, Sandiaga Uno melihat peluang baru di bebrapa sektor yaitu kesehatan, konferensi video virtual, kursus online, digitalisasi bisnis, kuliner, biotech, legal, dan energi terbarukan. Sektor-sektor ini dapat dimanfaatkan karena menyesuaikan dengan kebutuhan konsumen di tengah pandemi ini. Sandiaga Uno optimis dengan perusahaan yang berinovasi dan memperkuat ekosistem digital, karena bisa menciptakan lapangan kerja baru di masa pandemi ini. Akibat pandemi ini, 21 juta orang kehilangan perkerjaannya. Oleh karena itu, penguatan perusahaan rintisan perlu dilakukan agar bisa menciptakan lapangan kerja baru dan hal ini akan berdampak positif terhadap perekonomian nasional

Sumber: katadata.co.id

Sumber foto: Instagram @sandiuno

Read More
Presentation
Startup

Tantangan Ini Dapat Membuat Startup Berkembang

Dengan seiringnya dinamika global, berbagai perusahaan startup mulai bertumbuh di Indonesia. Meskipun demikian, salah satu tantangan yang dihadapi dalam proses adalah inovasi. Karena membuat startup sulit mempertahankan eksistensinya. 

Saat ini ekonomi digital sedang naik daun, kata Direktur Aplikasi dan Tata Kelola Ekonomi Digital Kemenparekraf, Muhammad Neil El Himam. Dengan memahami situasi mengenai banyaknya permasalahan yang terjadi di masyarakat, pastinya akan membuat perusahaan startup untuk berkembang lebih baik. 

“Pengalaman kami yang sudah bertahun-tahun mengurusi dunia startup, kebanyakan di Indonesia tidak akan bertahan lama. Ini disebabkan kurangnya budaya untuk mendefisnisikan permasalahan yang sedang terjadi,” ungkap dia dalam virtual konferensi. 

Neil mengatakan, saat yang tepat bagi e-commerce untuk berkembang harus diimbangi dengan melihat peluang pasar dan memanfaatkannya menjadi suatu hal yang sangat berpotensi. Co-Founder & Chief Marketing Office tiket.com, Gaery Undarsa juga mengatakan, pandemi Covid-19 memang menghantam kondisi beberapa perusahaan rintisan termasuk startup Tiket.com. Ia memprediksi bahwa bisnisnya tidak akan bisa jalan sampai dengan akhir tahun. 

“Di tiket.com kita ekspektasi tidak akan ada pergerakan sampai dengan kuartal 4. Tapi ternyata tidak, di akhir Juni kemarin hasil per 1 Juli lumayan bagus dan transaksi naik 20% sampai 25%,” ungkap Gaery. Ia menambahkan, banyak startup di Indonesia saat ini hanya terfokus pada ide saja. Padahal dengan ide yang dianggap menurut kita bagus, belum tentu banyak orang yang tertarik dengan ide kita tersebut. Hal yang tidak kalah penting adalah ekosistem. 

“Yang paling mahal itu adalah ekosistem, dan kemudian mencari suatu masalah yang sulit di pecahkan sampai orang mau mengeluarkan biaya untuk memakai servisnya. Ini merupakan langkah yang sangat penting sebelum mulai sesuatu, kita juga harus melihat dulu apakah problem ini sudah cukup baik untuk dijalankan,” ungkap dia.

Sumber: kompas.com

Sumber foto: Designed by snowing / Freepik

Read More
Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani
Startup

Akan Ada 3 Calon “Unicorn” Baru di Indonesia

Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) memberitahukan akan ada tiga unicorn baru yang muncul di Indonesia sampai tahun 2024. Isilah unicorn mengarah kepada startup yang mempunyai nilai valuasi lebih dari 1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14,4 triliun. 

“Tetap akan ada 3 target terhadap unicorn yang akan tumbuh di Indonesia,” kata Dirjen Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan melalui webinar. Setelah penurunan ekonomi yang diakibatkan pandemi Covid-19 ini, Semuel tetap optimis bahwa Indonesia masih sanggup melahirkan unicorn baru. 

Samuel menjelaskan, tiga unicorn ini akan muncul dari sektor keuangan, pertanian, dan pendidikan. “Yang paling saya perhatikan adalah dari sektor keuangan, karena memiliki potensi menjadi unicorn,” jelas Semuel. Ia juga memberitahukan bahwa, baru-baru ini ada  startup  yang berubah status menjadi unicorn. Meskipun demikian, Semuel masih belum mau mengungkapkan identitas perusahaan tersebut. Semuel mengatakan sesungguhnya sektor digital merupakan peranan paling penting sebagai kunci kemajuan perekonomian di Indonesia pada masa yang akan datang. “Digital adalah pemecah masalah yang paling pas dalam memasuki pembangunan ekonomi berikutnya,” ujar dia.

Sumber: kompas.com

Sumber foto: kominfo.go.id

Read More
Ilustrasi Kantor
Startup, Work

Lebih Enak kerja di Startup atau Korporasi?

Pilihan bekerja di startup atau korporasi adalah pilihan yang sulit pada saat kita sudah lulus kuliah. Meskipun keduanya memiliki perbedaan, akan tetapi pilihan untuk berkarir tidak dapat asal di putuskan karena itu juga menjadi masa depan kita juga. 

Kalau begitu, mendingan kerja di startup atau korporasi? Sebelum menentukan, sebaiknya kita mengetahui dulu perbedaan bekerja di startup dan korporasi. Berikut ini adalah ulasannya :

  1. Jam Kerja

Soal jam kerja, keduanya memiliki perbedaan yang cukup mencolok nih. Kalau di startup, jam kerjanya lebih fleksibel. Karena, startup lebih mengutamakan goals pekerjaan yang harus dicapai, bukan lebih mengatur jam kerja. Maksudnya adalah, selama pekerjaan kamu bisa selesai dengan baik, jam kerja bukanlah suatu hal yang dipermasalahkan. Sedangkan korporasi, mereka biasanya punya aturan jam kerjanya yang lebih mengikat. Misalnya, kalau kamu terlambat, maka kamu tidak bisa mendapatkan uang makan siang. Atau jika akumulasi keterlambatan dalam sebulan melebihi batas, kamu bisa mendapatkan pemotongan gaji.

  1. Budaya Kerja

Karena sudah lebih besar dan lama berdiri, korporasi memiliki birokrasi dan hirarki yang lebih mengikat. Berbeda dengan startup yang lebih fleksibel meskipun memiliki struktur jabatan. Nah, hirarki ini juga berpengaruh dengan batasan antara manager dan staf serta junior dengan senior di korporasi. Selain itu, berpengaruh juga terhadap sikap, bahasa, nada bicara serta perilaku dalam berkomunikasi. Sedangkan di startup, fleksibilitas yang ada membuat komunikasi antara bawahan dan atasan terjadi secara dua arah.

  1. Gaji dan Tunjangan

Nah, hal ini juga kelihatan jelas perbedaannya antara startup dan korporasi. Balik lagi ke penjelasan di poin kedua, karena umur korporasi yang lebih matang tentunya keuangannya juga sudah jauh lebih baik dibandingkan startup. Maka dari itu korporasi juga memiliki aturan jelas mengenai gaji, bonus, upah lembur, kenaikan gaji dan tunjangan. Jika di korporasi, lembur akan diberikan upah. Sedangkan di startup, lembur merupakan bagian dari kontribusi dan dedikasi.

  1. Fasilitas

Untuk pengadaan fasilitas, korporasi sudah jauh berada di atas startup. Gak hanya fasilitas penunjang kerja seperti laptop dan sebagainya, bahkan beberapa korporasi juga punya fasilitas lain seperti caf, gym, salon dan sebagainya. Sedangkan kalau di startup, beberapa fasilitas harus kamu sediakan sendiri seperti laptop dan beberapa fasilitas penunjang kerja lainnya.

  1. Jenjang Karir

Di startup, kamu diberikan kesempatan belajar seluas-luasnya di luar dari jabatan kamu. Inilah yang menjadi latar belakang mengapa jenjang karir di startup tidak terlalu jelas. Karena, kamu bisa scale up diri dengan jabatan apapun yang kamu pegang, belajar memahami job desk lainnya gak harus nunggu jabatanmu tinggi terlebih dahulu. Sedangkan di korporasi, kamu akan diminta lebih fokus dengan job desk yang menjadi tanggung jawabmu. Tapi, ini gak menutup kemungkinan kamu bisa dipromosikan jabatan jika kamu bisa achieve target.

Sumber : kompasiana.com

Sumber foto : Alex Kotliarskyi on Unsplash

Read More
Strategi
Startup

Startegi Pivot Dapat Membantu Startup Bertahan Selama Pandemi

Selama pandemi Covid-19, Kominfo menyarankan Startup memakai strategi pivot karena dinilai dapat membantu startup bertahan di tengah masa pandemi corona ini. Akan tetapi Startup tetap harus pandai melihat peluang yang ada.

Pivot adalah aktivitas pengembangan usaha dengan mengubah model bisnis, namun tetap mempertahankan visi. Istilah ini diambil dari gerakan pada olahraga basket, mengubah arah dengan berpijak pada salah satu kaki. Oleh karena itu, ini adalah saatnya merubah strategi dengan menggunakan pivot.

Contohnya, konsumen berbelanja bahan makanan meningkat selama pandemi virus corona. Oleh karena itu, startup dengan model business to business (B2B) bisa ikut merambah business to costumer (B2C). Begitu pun sebaliknya. Bahkan, Startup juga bisa menerapkan model business to government (B2G).

Di saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) misalnya, semua orang mengandalkan platform panggilan video untuk kegiatan rapat. Ini juga merupakan sebuah peluang. Peluang seperti itu seharusnya dapat dilakukan oleh startup, dengan melakukan pivot. 

Selain itu, kementerian komunikasi dan informatika (kominfo) juga menyiapkan program 1.000 startup. Pada awalnya, program ini diperuntukkan untuk masyarakat yang akan mengembangkan startup. Saat ini, kementerian memperluas cakupannya sampai ke startup yang tedampak corona. “Kami juga akan mencarikan dan memperkenalkan dengan investor atau venture capital yang berminat,” ujarnya.

Sumber : Katadata.co.id

Sumber foto : Kaleidico on Unsplash

Read More
East Ventures
Startup

East Ventures Mentargetkan Dana untuk Startup Baru sejumlah Rp 1,24 T

East Ventures mentargetkan pengumpulan dana US$88 juta atau sekitar Rp1,24 triliun. Menurut Wilson Cuaca, dana ventura tersebut akan digunakan untuk mendamai startup yang baru muncul dan berkembang pada saat Covid-19 ini. 

Kata Wilson, “Pandemi Covid-19 telah memukul kinerja bisnis dan perekonomian global serta mengubah kebiasaan manusia di seluruh dunia. Akibatnya, konsumen dan pembisnis terdorong untuk mempercepat transformasi digital.”

Kebutuhan dunia usaha offline di kehidupan sehari-hari akan membuat dunia harus menyiapkan beragam antisipasi seperti model bisnis, memahami kebutuhan esensial, hingga beradaptasi.

“Percaya diri pada masa depan ekonomi digital di Asia Tenggara saat ini justru membuktikan founder yang hebat pasti menemukan celah untuk mengembangkan perusahaan mereka sendiri, bahkan pada saat kiris,” katanya.

Adapun Institusi finansial global dan regional yang sudah ikut bergabung sebagai investor dalam dana investasi terbaru East Ventures.

  Kata CEO Pavilion Capital Tow Heng Tan, “Kami sangat mendukung untuk meneruskan kemitraan kami dengan East Ventures. Karena posisi East Ventures di Asia Tenggara sangat strategis untuk mendampingi entrepreneur dalam menggali potensi yang lebih dalam”. 

Sumber : bisnis.tempo.co

Read More
Startup
Startup

Kunci Sukses Startup Selama Pandemi COVID-19

Untuk bisa bertahan di era new normal, startup harus mengidentifikasi perubahan bisnisnya dan harus siap beradaptasi. Bisnis sejumlah perusahaan rintisan atau startup di Dunia terdampak pandemi corona, bahkan tak sedikit dari mereka yang bangkrut. Setidaknya ada tiga hal yang harus dilakukan startup untuk bertahan dari pandemi, menurut Presiden Komisaris SEA Group, Pandu Sjahrir. 

Pertama, perusahaan harus memahami apabila ada perubahan yang terjadi pada sektor bisnisnya. Pandu meyatakan, bahwa untuk mendapatkan pandangan terkait dampak pandemi terhadap bisnis dari berbagai sisi, startup harus berdiskusi dengan para pakar, kompetitor, maupun stakeholder. 

Kedua, startup harus belajar beradaptasi dengan struktur organisasi perusahaan apabila ada sisi yang terdampak. Untuk itu, perusahaan perlu meninjau lebih dalam terkait dampak Covid-19 dari sisi sumber daya manusia (SDM), modal, alokasi dana perusahaan, dan sebagainya. Contohnya, sebuah startup akan fokus pada bisnisnya dengan jenis usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Ketiga, perlu mencari tahu siapa para investor yang tepat dan berapa jumlah pendanaan yang mereka butuhkan untuk menjalankan perubahan. Sebelumnya Asosiasi Modal Ventura Untuk Startup Indonesia (Amvesindo) mengatakan ada empat bidang startup yang siap menerapkan new normal. Keempatnya adalah teknologi kesehatan, pesan-antar makanan, e-commerce, dan fintech pembayaran.

Sumber : katadata.co.id

Sumber foto : Austin Distel on Unsplash

Read More